Ketika terbangun di pagi hari saat alarm dari hp yang ku set di jam 02.45 wib yang meraung dan meradang seolah ingin puas membangunkan aku dari tidurku yang lelap, aku pun terbangun dan seperti biasa rutinitas di bulan suci Ramadhan, Artha harus menemani pendengar kala sahur tiba, terdengar agak jauh bunyi corong Masjid yang ada di lingkungan tempat kami tinggal memanggil setiap kaum muslimin untuk segera bangun dan sahur…. indah rasanya bulan suci Ramadhan kali ini.

Tak lama berselang pintu belakang rumah pun terdengar ada yang mengetuk yang sudah dipastikan adalah penyiar yang kebagian jadual untuk siaran sahur hari ini. On Air pun berlangsung dengan segenap rasa kantuk dan yang pasti mata pun masih berat untuk diajak melotot karena memang semalaman begadang karena ada kerja yang mesti diselesaikan. Dan Artha pun mengudara seperti hari hari sebelumnya saat menemani pendengar makan sahur dengan segudang canda lewat udara.

13 September 2008 adalah hari yang spesial bagi kami, 7 (tujuh) tahun sudah kami mengudara menemani pendengar setia kami, rasanya bukan hal yang berlebihan kalau aku menganggap bahwa hari ini aku penuh kebahagiaan karena hari ini cermin kehidupan seolah ada di depanku untuk kembali menggiring agar segera bercermin untuk melihat siapa aku, seperti apakah diriku dan perubahan apa yang terjadi pada diriku …. selama 7 (tujuh tahun) membawa Artha.

Aku jadi ingat 7 tahun yang lalu, saat kami baru menapaki babak baru di dunia siaran, ketidak tahuan, ketidak mengertian dan segala kekurangan yang ada pada kami adalah langkah yang menyertai menuju hari demi hari yang akan dilalui sepanjang perjalanan tiada henti dan tanpa rasa lelah, meskipun sesekali ada rasa bosan karena bagaimanapun aku adalah manusia biasa.

Radio kami, Artha sudah 7 tahun berjalan layaknya seorang anak manusia (mungkin kalau di ibaratkan) seorang anak yang baru sekolah di kelas 2 SD, kalau melihat seperti ibarat ini, berarti Radio Artha Masih Seumur Jagung (Belum apa apa) rentang waktu masih panjang untuk menuju proses pembelajaran yang akan di tempuh. Jauh memang… Aku berfikir …”jangankan aku merasa sok hebat, melihat waktu kebelakang pun ternyata aku belum apa apa, belum seberapa. Maka aku pun bercermin ternyata aku masih harus banyak bersolek untuk merubah setiap sisi sisi dari semua kekurangan aku untuk Artha. (Bersambung)

LEAVE A REPLY