Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara kita sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting dalam mewujudkan Persatuan dan Kesatuan.
Pancasila sebagai dasar negara mempunyai peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Pemikiran-pemikiran mengenai Pancasila tersebut salah satunya adalah Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Republik indonesia.

Adanya pro kontra di dalamnya terutama terkait tindakan polisi yang menangkap orang-orang yang dianggap menggunakan atribut Partai Komunis Indonesia. Satu pengguna misalnya mengatakan pengguna atribut harus ditindak tegas. “Jangan sampai generasi muda sekedar ikuti tren dan apalagi dengan motif terselubung.” Palu arit, yang melambangkan kaum pekerja industri dan petani, muncul dalam Revolusi Rusia pada 1917 dan terus digunakan (serta dimodifikasi) sebagai lambang komunisme di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pada tanggal 30 September 1965, adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.
Hari itu, 6 (enam) orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S-PKI dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, memperingati bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti, tak tergantikan.
”Asal muasal kejadian ini disebabkan karena usaha PKI untuk membentuk “Angkatan Kelima” beranggotakan petani dan para buruh yang bermaksud untuk menentang Federasi Malaysia. namun Gagasan ini ditentang keras oleh AD. Untuk memperkuat gagasannya, PKI mulai meniupkan adanya dewan jenderal. PKI mengklaim menemukan “dokumen Gilchrist” yang antara lain di dalamnya terdapat kalimat : “ …masa depan kerja sama dengan teman-teman kita di AD”.
Kata “teman-teman kita di AD” diterjemahkan PKI sebagai adanya dewan jenderal. Gilchrist adalah nama duta besar Inggris di Indonesia. Kegaduhan ini berlangsung dengan Presiden Sukarno berada di pusat. Saat presiden sakit keras, maka, situasi menjadi sangat matang, dan meletuslah peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September itu.
Jenderal Suharto mengatakan bahwa gerakan ini adalah sebuah usaha kudeta untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang sah, dan pasti didalangi oleh PKI, maka pada tanggal 12 Maret 1966, dengan SUPERSEMAR, Jenderal Suharto membubarkan PKI dan menyatakan bahwa PKI dan seluruh organisasi lain yang terkait dengannya dinyatakan terlarang, termasuk ajaran-ajaran komunisme/marxisme, dan Leninisme. Hal ini diperkuat dengan TAP No XVIII/MPRS/1966. Politik
Presiden Joko Widodo sebelumnya menyatakan kalau benar ada upaya menghidupkan lagi PKI, pemerintah akan mengambil tindakan hukum.

Sementara itu, sejarawan dan penulis Andi Achdian mengatakan kehebohan palu arit tak ubahnya sebagai sebuah “kekhawatiran yang tidak perlu, tetapi dibuat perlu.”

“Kesannya memang seperti propaganda hitam, awal-awalnya ada tuntutan pemulihan hak-hak korban 1965, tapi isu tentang hak asasi manusia ini dibelokan jadi isu komunis. Walau saya tidak bisa buktikan tapi munculnya bersamaan, dan kisah-kisah anekdotal yang diangkat tidak kontekstual, jadi absurd,” katanya.

Andi menilai peluang munculnya gerakan komunis selalu ada, tetapi di Indonesia tampaknya tidak bergerak ke arah sana.

“Dunia sekarang tidak sama dengan tahun 1960-an tetapi polisi masih berpikir tahun 1960. Potensi dari gerakan yang bercita-cita pada keadilan sosial bisa macam-macam bentuknya, tidak hanya dengan komunisme.”

“Itu yang saya kira ketinggalan zaman, apa yang muncul di Indonesia dengan palu aritnya. Orang sudah berpikir dengan dunia yang global. Gerakan sudah bergerak jauh di luar imajinasi negara sendiri untuk melihat sumber ancaman.”