Belajar pada batu

“ANDA merasa walaupun terus belajar belum tentu akan menjadi pandai, tapi dengan belajar Anda masih punya harapan untuk, mungkin saja, menjadi pandai. Bila Anda tidak belajar lagi, maka sejak itu Anda memastikan did untuk tidak akan pandai,” ujar Abu Qubaisy kepada salah seorang muridnya yang hampir putus asa, karena merasa sudah tua dan otaknya telah beku untuk bisa menerima pelajaran lagi.

Lama m-urid itu terdiam. Tampak dia berpikir keras. Akhirnya dia berkata, “Apa ada contoh kisah tentang orang yang meski tetap merasa bodoh, tapi terus belajar juga,”

“Ya. Orang itu bernama Al-Sakaki dan kisahnya dituturkan dalam kitab Raudah al-jannah,” jawab Abu Qubaisy.

“Sampaikanlah kepada saya,” pinta murid itu.

“Al-Sakaki sebenarnya adalah pandai besi yang mahir. Pada suatu saat, dengan berharap akan dihargai raja, dia membuat tempat tinta dari besi untuk dihadiahkan kepada raja. Dan raja pun dengan senang hati menerima tempat tinta yang mungil dan indah itu. Al-Sakaki pun mulanya sudah merasa amat dihargai. Tapi ketika muncul lelaki lain di tempat mereka berada, dan raja bangkit menyambutnya dengan hormat dan takzim, Al-Sakaki menjadi berkecil hati.

Ketika tahu orang itu dimuliakan raja itu seorang cendekiawan, Al-Sakaki pun memutuskan unutk menuntut ilmu. Kemudian dia datang belajar kepada seorang guru. Tapi malang, otaknya tak gampang menerima pelajaran. Ketika gurunya menyuruh menghapal kalimat, “Syaikh berkata, kulit anjing itu menjadi suci dengan cara disamak,” Al-Sakaki sulit melakukannya. Bahkan esok harinya dia berkata, “Anjing berkata, kulit Syaikh itu menjadi suci bila disamak.” Karuan saja para murid yang hadir tertawa semua.

Karena malu Al-Sakaki pergi dari perguruan. Dia naik ke atas bukit dan berharap tak bertemu orang. Di sana, di sebuah gua, ditemukannya sebuah batu berlubang karena tiap saat kejatuhan tetesan air. Tiba-tiba dia berpikir, batu yang keras itupun bila terus menerus tertimpa air bisa berlubang. Apalagi hati dan otakku yang empuk, pasti terbuka bila terus-menerus menerima pelajaran. Kemudian dia kembali ke perguruan dan kembali belajar dengan sungguh-sungguh.

“Tidakkah Anda bisa belajar dari Al-Sakaki?” Tanya Abu Qubaisy akhirnya.

“Redaksi Artha”

LEAVE A REPLY