Jika anda diberi pertanyaan “kapan terakhir mendengar radio?” mungkin dari sebagian dari anda anak era milenial saat ini lupa kapan terakhir mendengarkan radio. Dalam buku John Vivian, Mass Communication Theory mengatakan bahwa saat ini acara utama radio, yakni musik, telah tersedia dalam bentuk perangkat lain, dan banyak yang tanpa iklan. Audien radio terutama, yakni kelompok usia 18 sampai 24 tahun telah banyak berkurang. Mengenai penurunan angka jumlah pendengar radio, berbagai faktor pencetus tentunya tak luput dari fenomena bahwa radio kian hari ditinggalkan oleh para pendengar, adanya platform music digital atau aplikasi music digital yang bisa diunduh secara cepat, dan dianggap lebih efisien menjadi tantangan terbesar industri penyiaran radio saat ini. Bagi sebagian besar masyarakat yang melek teknologi tentu akan lebih memilih platform musik digital dibandingkan dengan mendengarkan radio yang bersifat hanya bisa didengarkan selintas karena melalui music digital mereka bisa mencari, memilih dan mendengarkan musik sesuai dengan keinginan masing-masing pengguna. Tak hanya itu, masalah kedua yang dihadapi oleh industri radio saat ini adalah penurunan jumlah belanja iklan nasional, dimana pengiklan kini lebih tertarik menggunakan iklan digital dibandingkan mereka beriklan di televisi maupun radio. Hal ini terjadi semenjak revolusi industri 4.0 dimana segala bentuk pertukaran data atau informasi terhubung dengan internet.
Kembali lagi membahas radio, mungkin sebagian besar masyarakat kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lainnya masih mengandalkan radio sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan dikala antrian kemacetan lalu lintas. Tapi jika kita telusuri lebih lanjut, apa kabar dengan radio daerah?


Diterjang arus zaman digital membuat radio-radio daerah di seluruh Indonesia diprediksikan akan mati suri. Wah kenapa bisa gitu ya? Tentu internet adalah jawabannya, ramalan seorang ahli komunikasi Marshall McLuhan tentang dunia akan menjadi sebuah “desa global” dan prediksinya akan peran teknologi informasi dan komunikasi secara cepat melampaui peran media komunikasi tradisional pada waktu tertentu dalam satu abad terakhir terbukti adanya saat ini, Contoh kecilnya saja seperti keseharian anda yang galau jika baterai handphone anda mati atau koneksi internet yang gangguan mengakibatkan segala aktivitas anda hari itu menjadi berantakan. Saya sendiri sebenarnya juga sangat menikmati kemudahan dan kecanggihan teknologi hari ini, yang paling saya rasakan adalah kemudahan berbelanja online (e-commerce) yang semakin hari semakin menggiurkan dengan sale-sale yang saya sendiripun geleng-geleng kepala memikirkannya.
Namun sadarkah anda bahwa segala sesuatu kemudahan itu juga menggiring kita pada perubahan pola perilaku kehidupan kita? Mulai dari yang biasanya ibu-ibu dipagi hari biasanya menunggu acara siaran program favorit mereka di radio atau menikmati lagu dangdut sembari memasak kini berubah menjadi trend update Status di Facebook atau mengupload foto maupun video masakan mereka di instastory Instagram. Yang biasanya berbelanja ke pasar, kini dengan belanja online ibu-ibu tinggal duduk cantik menunggu kurir mengetok pintu mengirim paket ke rumah.
Lalu seberapa berpengaruh pola perilaku individu dengan radio? Tentu jawabannya adalah radio akan semakin ditinggalkan pendengarnya karena mereka lebih mementingkan belanja online dan update di media sosial. Apa ancaman terbesar radio jika perilaku individu berubah? Pastinya penurunan jumlah pendengar dan yang paling ditakutkan oleh radio adalah penurunan iklan yang signifikan. Berdasarkan data yang diberikan Indonesian Marketing Radio Forum, dari keseluruhan total sharing Media Advertising tahun 2018 radio hanya mendapatkan porsi 1,2% dari semua total belanja iklan nasional (IMRF dan www.eMarketer.com). Media digital memiliki porsi 18,8%, belanja iklan untuk media digital kian meningkat dari tahun ke tahun karena dianggap lebih efisian dan lebih universal ketimbang mereka menaikkan persentase belanja iklan ke radio yang jangkauannya pun terbatas. Apa dampak jika semua menurun? Operasional radio menjadi terganggu bahkan kabar terburuknya tidak sedikit radio swasta yang terancam gulung tikar. Meski begitu adakah solusinya untuk radio tetap bertahan di zaman digital nan milenal ini?
Andy Rustam M seorang penulis buku Radio Is Sound Only ini menyatakan bahwa saat ini para broadcaster baik televisi maupun radio harus menyikapi perkembangan teknologi dalam dunia broadcasting. Ia tidak pesimis dengan hadirnya teknologi informasi saat ini yang terus menyemangati para broadcaster Indonesia untuk melakukan perkembangan radio sesuai zaman. Ia menyarankan radio mulai mengembangkan sayapnya menjadi radio internet. Radio internet itu seperti apa? Sebagaimana layaknya radio konvensional, pendengar bisa tune-in pada stasiun radio untuk menikmati acara, radio internet bisa dicari melalui alamat website dengan memiliki keunggulan dibandingkan radio konvensional adalah bisa diakses secara luas dan memiliki kemampuan interaktif. Jadi tak hanya masyarakat wilayah tersebut saja yang bisa mendengar siaran radio, tapi seluruh Indonesia bahkan duniapun bisa mendengarkan radio tersebut. Macam-macam radio internet ini terdiri menjadi 3 macam yakni radio streaming, radio podcasting, dan pandora radio. Lalu selanjutnya adalah mengefektifkan media sosial radio tersebut, ini penting karena media digital ini akan terus berkembang.

Saya berkesempatan mewawancarai seorang pemilik radio daerah yang sudah 17 tahun bergelut di industri radio, Heri Herdiana yang telah menerapkan prinsip mengikuti zaman, sebuah stasiun radio di kota kecil bernama Kota Manna yang terletak di Provinsi Bengkulu ini terus berusaha melakukan ekspansi dari hanya radio konvensional saja menjadi radio internet, tentu ia harus melakukan hal tersebut demi tetap mempertahankan eksistensi radionya. Ia mengatakan bahwa radio daerahpun tak boleh kalah dari radio-radio yang berada di kota besar. Pun ia sangat menyadari bahwa berdiam diri dan tidak melakukan inovasi akan membuat radionya tetap diam di tempat. Dengan membangun radio internet tentunya ini membantu radionya tetap mengalami kenaikan pendengar dari luar daerah, memudahkan pengiklan melakukan placement iklan, lebih diingat oleh klien perusahaan dan masih banyak lagi manfaatnya dengan menyatukan teknologi sebelumnya dengan teknologi internet. Ia juga menambahkan bahwa “radio mati suri itu mungkin akan terjadi pada radio yang tidak ingin melakukan perubahan seiring perkembangannya, meskipun tantangan kita sebagai radio daerah semakin besar dan semakin digeser dengan media digital, tapi kami sebisa mungkin tetap maksimalkan penggunaan teknologi yang ada agar radio kami tetap berjalan dengan semestinya dan tetap eksis dikalangan broadcaster-broadcaster lainnya”.
Saya mendapatkan kesimpulan bahwa teknologi tersebut hanyalah sebuah sarana bagi seluruh penggunanya, tinggal bagaimana kita sebagai pengguna bisa menggunakan teknologi tersebut dengan maksimal sehingga berdampak bagi semua aspek kehidupan saat ini, zaman milenial.

(Nadya Anandari)