TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia siap menjadi pusat mode busana muslim dunia. Demikian analisis terbaru Prapancha Research (PR) berdasarkan pantauan terhadap jejaring sosial selama kurun 1 Agustus 2011-1 Agustus 2013. Kendati demikian, promosi dan pembentukan jaringan internasional harus gencar dilakukan bila negeri ini tak ingin kehilangan momentum.

“Tentu saja tak pernah ada pendataan seberapa banyak pengguna jilbab di Indonesia. Tetapi ada 5.447 perbincangan tentang jilbab di Twitter per hari,” ujar Muhammad R. Nirasma, analis PR.

Sebagai perbandingan, kata kunci “rok” diperbincangkan sebanyak 7.526 kali per hari, “topi” diperbincangkan 5.295 kali per hari, dan “kemeja” 3.513 kali per hari. “Kita tahu busana-busana ini tak pernah terlepas dari keseharian kita. Dengan frekuensi perbincangan yang tak kalah banyak, bisa dibilang jilbab juga sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia,” kata Nirasma.

Hanya saja, lembaga riset ini mendapati media-media internasional masih cenderung belum memberi persepsi baik kepada Indonesia sebagai negara yang perlu diperhitungkan dalam kancah busana muslim global. Kalaupun disinggung oleh media-media mancanegara dalam berbagai artikel tentang industri busana muslim, Indonesia dipandang baru sebatas salah satu pasar potensial.

“Ajang-ajang busana muslim yang kerap menjadi buah bibir adalah ajang-ajang di Barat, Arab, atau terkadang India. Nama-nama desainer maupun merek yang dikenal pun berasal dari ketiga wilayah ini,” ujar Nirasma.

Menariknya, di samping merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dan PDB tertinggi di antara negara-negara mayoritas muslim, Indonesia juga menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi terhadap busana muslim dibanding negara-negara lain. Dari total pencarian “muslim fashion” di Google, 77%-nya ternyata berasal dari Indonesia. Kemudian, 16%-nya dari Malaysia, dan 2% dari Inggris serta India.

Belakangan media internasional memang mulai marak mengangkat potensi industri busana muslim dunia. Potensi ini dianggap sebagai kesempatan di tengah lesunya perekonomian Barat, kian meningkatnya populasi muslim global, dan fakta bahwa sebagian besar populasi muslim berada pada usia produktif. Ditaksir bahwa kini nilai industri ini secara global mencapai 96 miliar dolar.

Potensi menjanjikan Indonesia ini bahkan tak tertangkap oleh analis-analis luar. Sebagian besar pemerhati industri busana muslim dalam artikel-artikelnya selalu ramai mendiskusikan pasar Eropa, Amerika Serikat, atau Timur Tengah.

Menjamurnya gerai-gerai jilbab di Indonesia memperlihatkan kalangan wirausaha Tanah Air sudah berhasil memanfaatkan pasar domestik yang menjanjikan ini. Namun disayangkan apabila kita berhenti hanya pada titik ini.

“Indonesia punya semuanya. Punya pasar, bahan baku, pabrik, desainer, pemodal. Kekurangannya hanya jalur untuk go international. Para pelaku industri tak bisa melakukan ini sendirian. Pemerintah harus turut membantu agar visi Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia tidak hanya menjadi retorika semata,” kata dia.

EVIETA FADJAR

LEAVE A REPLY