Saat paling berkesan kata orang yang pernah tinggal atau memang menetap di kota manna bakal bercerita tentang tempat yang satu ini. Pasar Bawah… ya Pasar Bawah (apa ada pasar yang ada di Bawah… ?) mungkinwaktu jadul kali ya ada pasar di situ.

Ok, kita tidak cerita sejarah kali ini, Pasar Bawah sebuah nama yang akrab di telinga untuk yang pernah tinggal atau mampir ke kota Manna Bengkulu Selatan, deburan ombak pantai selatan yang tiada hentinya kalau diperhatikan dengan seksama rasanya ombak itu sedikit demi sedikit menggerus bibir pantai Pasar Bawah ini, aku ingat ketika 1982 saat baru kaki ku injakan di pasar bawah rasanya tepi pantai Pasar Bawah ini jauh dari bibir pantai di bandingkan saat pertama kali aku datangi Pantai Pasar Bawah. Tapi aku lihat ada upaya dari Pemda untuk membuat benteng penahan gelombang yang sudah di bangun di situ.

1982 – 2008 adalah rentang waktu yang lama untuk melihat perkembangan wajah Pasar Bawah, kalau dari suasana ada juga perubahan, mungkin karena peradaban dan penghuni kota manna dan sekitarnya yang terus bertambah hingga sekarang. Pasar Bawah adalah salah satu tempat faforitku di kota Manna, tempat memadu kasih yang aku sukai saat aku masih doyan pacaran waktu masih culun dulu sekaligus tempat aku bolos sekolah… ha ha ha banyak kisah yang aku toreh di sini… (ah itu puluhan taun lalu ceritanya….)

Kini, Pasar Bawah yang membawa lamunanku kemasa kecil ku dulu telah berubah dan ada nuansa lain yang aku rasakan, rasanya baru kemarin hari aku berlari dipasir pantai, aku berenang hingga ketangah laut sampai aku merasa ketakutan saat terbawa ombak, bersuka ria bersama semua semua sahabat karib ku saat aku melepaskan kepuasan hati untuk bergembira di masa kecilku.

Saat sore hari menjelang buka puasa di bulan suci Ramadhan 1429 H ini hari ke 10, aku datangi kembali Pasar Bawah bukannya untuk berlari-lari di bibir pantai atau berenang menantang ombak, disitu aku ceritakan segala kisah ku kepada dua buah hatiku Nadya dan Adinda anak-anaku tercinta bahwa Bapaknya dahulu mempunyai banyak kisah di Pasar Bawah. Lalu pertanyaan pun muncul dari mulut si kecil ananku yang bontot dengan kepolosannya dia bertanya : ” Pah … airlaut itu asin ya pah…” aku tersenyum … tanpa aku jawab aku hampiri pinggiran pantai dan kuraih ombak yang mendekat dan akupun berpura pura merasakan rasa air itu, lalu aku kembali duduk dengan anak anakku dan aku bilang asin, lalu anaku yang sulung berkata : papah batal puasanya… aku pun tersenyum (dalam hati aku ingin sekali sebenarnya merasakan asinya air laut itu sekedar merasakan asinnya air laut Pasar Bawah seperti aku kecil dulu)

BAGIKAN
Berita sebelumya13 September 2008
Berita berikutnyaDoa-Doa Rasululloh

LEAVE A REPLY