Manna, Bengkulu- Memasuki malam ke-5 pelaksanaan pengajian ilmu tasawuf Thareqoh Naqsabandyah di Desa Tanjung Besar (Bengkenang) Kecamatan Manna, dikuti oleh Ada 12 peserta, berasal dari Seluma ada 5 orang, 2 orang dari Kepahiang, 1 orang dari Lahat, 2 orang dari Padang Guci, dan 2 dari Bengkulu Selatan .suluk seperti jumlah awal saat kegiatan dimulai malam ke-10 Ramadhan.
Buya M Zaman R Menjelaskan, Naik kaji ini terdiri dari malam pertama kegiatan suluk dimulai yaitu naik kaji latifatul qolbi, malam kedua latifatul Ruh, malam ke-3 latifatul sir, malam ke-4 latifatul hafa (limpa), malam ke-5 latifatul ahfa, malam ke-6 otak, malam ke-7 jasad, malam ke-8 nafas, malam ke-9 tafakur selama 2 jam dan malam terakhir penutupan.
meskipun berzikir setiap malam mulai sekitar pukul 01.00 WIB-03.00 WIB, kemudian zikir dilanjutkan lagi usai sahur dan shalat subuh sekitar pukul 05.30 WIB-07.00 WIB, para peserta suluk tetap diberikan waktu untuk tidur sekitar 5-6 jam mulai jam 07.00 WIB hingga masuk shalat Zuhur. Sebelum mulai berzikir tengah malah, para peserta suluk wajib mengikuti kegiatan “naik kaji” yang diisi langsung oleh pimpinan Thoreqoh Naqsabandyah Kabupaten BS Buya Syech M Zaman usai shalat tarawih dan witir.
“Ini yang harus diluruskan istilah kegiatan naik kaji suluk ini sering disamakan dengan naik haji padahal beda, naik haji yah tetap ke Mekkah bukan di sini (suluk, red). Tujuan suluk ini untuk membersihkan sifat-sifat jahat yang ada pada manusia karena itu setiap malam sebelum berzikir ada kegiatan naik kaji yang langsung diisi oleh guru kita (M. Zaman),” kata Ali.
Kegiatan Pengajian Tareqat Naqsabandiyah berbeda dengan tahun belakang karena jumlah nya menurun, saya berharap banyak yang dapat mengikuti kegiatan ini, Ujar M Zaman
Terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi, dijelaskan Ali peserta suluk memang dilarang untuk mengkonsumsi daging sapi, ayam maupun telur, sebagai penggantinya peserta diberi makanan sayur bening atau sop sayur dan tetap diberi nasi. Sedangkan minuman, pada saat berbuka peserta diberi minuman 1 gelas air putih, sagon, buah-buahan dan kue ditambah air teh atau kopi. Kemudian saat sahur, peserta juga diberi makan dan minum. “Uang Rp 600 ribu dari peserta, uang itulah yang digunakan untuk biaya peserta selama kegiatan,” tutup Ali.
Bangunan yang masih setengah permanen ini memiliki 2 lantai, yaitu lantai 1 (lantai dasar) digunakan untuk salat berjamaah baik shalat wajib 5 waktu maupun shalat taraweh dan witir sebanyak 23 rakaat, kegiatan “naik kaji”. Sementara lantai 2 digunakan bagi peserta suluk untuk berzikir sekaligus tempat beristirahat bagi peserta. Setiap peserta menempati ruangan segi empat berkelambu ukuran 1 meter x 160 cm. (DC)

incoming search terms:

  • suluk bengkulu