Detik.com – Kasak-kusuk mengenai Non Saputri alias Bunda Putri telah beredar di Desa Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat sejak berlangsungnya sidang kasus dugaan suap impor daging sapi dengan terdakwa Ahmad Fathanah pada Kamis, 29 Agustus 2013 lalu. Saat itu rekaman sadapan telepon antara putra Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Ridwan Hakim dan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq memenuhi ruang pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat. Suara Bunda Putri itu turut terekam. Rekaman itu menunjukkan Non mempunyai pengaruh sangat besar terhadap Luthfi.

Warga mengenal Bunda Putri sebagai Non Saputri, perempuan sukses dari Desa Cilimus. Mantan pejabat Desa Cilimus yang enggan disebutkan namanya menyebutkan Non lahir dari keluarga pas-pasan. Ibunya, Asyariyah, membesarkan Non tanpa bapak. Awalnya mereka tinggal di rumah kontrakan bersama dua kakak Non, yakni Nur dan Moro. Perempuan, yang oleh mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq bertugas mengondisikan para decision maker, itu, merupakan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu.

Asyariyah lantas menikah lagi dengan lelaki di Desa Cilimus. Pernikahan ini membuahkan tujuh anak, antara lain Otong, Cecep, Euis, Asep, Yaya, Diding, dan Tata. Setelah pernikahan kedua ini, Asyariyah mengadu nasib ke luar desa. Ia pernah merantau ke Kalimantan dan menjadi tenaga kerja wanita di Timur Tengah.

Anak-anaknya, termasuk Non, besar di Cilimus. Non tumbuh menjadi anak yang paling menonjol di antara saudara-saudaranya. Ia terkenal sebagai gadis cerdas dan pintar bergaul. Sampai-sampai ketika menjalani pendidikan SMP dan SMA di Cilimus, Non duduk sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Sekitar tahun 1980, Non pun melanjutkan pendidikan tinggi. Sayang, warga Dusun Wage tidak mengetahui tempat Non melanjutkan sekolah. Hanya saja sumber di Kementerian Pertanian menyebutkan, perempuan yang memasang gelar insinyur itu merupakan lulusan sebuah universitas yang sangat ternama di Bandung.

Detail jejak Non selepas dari kampung desa luput dari perhatian warga dusun. Setahu mereka Non merantau ke Jakarta dan sukses. Kisah sukses Non yang terekam warga diawali dengan perkawinannya dengan seorang warga negara Prancis. Mereka tidak ingat namanya. Tapi mantan menantu Non, Bernaldi Kadir Djemat alias Aldi, menyebutkan nama Bernard Tamarin. Pernikahan ini membuahkan anak semata wayang, Peni Fernita Saputri, mantan istri Aldi. Peni dikenal sebagai seorang artis.

Non pulang tiap empat atau lima bulan sekali. Desa Cilimus pun kecipratan rezeki dengan kesuksesan Non. Warga mengenal Non sebagai orang yang dermawan. Adik tiri Non, Otong Mulyadin, mengaku, tiap kali pulang kakaknya selalu membagi zakat dan beramal. Ia membantu pembangunan tempat ibadah, memberi santunan kepada anak yatim dan orang jompo

“Selama ini, dia datang paling hanya memberikan santunan yatim, jompo, atau ada sumbangan masjid atau apa, ya dikasih,” ucap Otong malu-malu.

Tentu saja, tidak cuma warga, keluarga pun turut merasakan kemakmuran Non. Rumah desa yang dulunya dikontrak Non, kini sudah dibeli dan dibangun dengan megah pada 2002. Sampai-sampai Non membangun sebuah kompleks keluarga. Otong tinggal di tengah-tengah kompleks berdampingan dengan rumah Non.

Saudara dari bapak tiri pun diajak untuk merantau. Cecep, Euis, Asep, Yaya, dan Diding, diboyong ke Kalimantan Barat untuk mengurusi usahanya. Sementara itu, Tata mencari nafkah di Jakarta, sedangkan Otong tetap tinggal di desa sekaligus menjaga rumah keluarga.

Cerita sukses Non terus berkibar di Cilimus. Apalagi ketika pulang sekitar 2009, Non mengaku tengah bekerja sebagai tim advisor untuk Petronas, perusahaan minyak Malaysia. Modal sukses ini membuat Non makin disegani. Ia memiliki hubungan politik dengan pejabat daerah seperti anggota DPRD Kuningan dan bupati.

Sumber majalah detik menyebutkan Non pernah mengajak Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda dan beberapa anggota DPRD Kuningan jalan-jalan ke Singapura. Namun Aang membantah kabar ini. Ia menyebutkan baru mengenal Non satu-dua tahun belakangan dan tidak pernah diajak ke Singapura.

Namun mantan Ketua DPRD Kuningan dari Fraksi PDIP Acep Purnama mengaku pernah bertemu dengan Non di Malaysia semasa menjabat. Tapi pertemuan ini bukan dalam rangka jalan-jalan. Saat itu Acep tengah melakukan kunjungan kerja DPRD. “Bukan Singapura. Kami ke Malaysia dalam rangka kunjungan kerja. Saya juga ikut dengan Pak Bupati,” akunya.

Rupanya tidak hanya pejabat daerah yang bisa dilobi oleh Non. Andi Mallarangeng semasa menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pun pernah mampir ke Kuningan. Informasi yang diterima Acep, menyebutkan, Andi diundang untuk membuka Pekan Olahraga Daerah (Porda) Provinsi Jawa Barat di pengujung 2011. Berkat Non yang menjadi Dewan Penasihat Lira (organisasi penyokong SBY jadi capres)-lah Andi mau datang.
Tapi lagi-lagi kabar ini dibantah oleh Aang. Menurut Bupati Kuningan itu, Andi datang atas undangannya. Saat itu, Kuningan menjadi tuan rumah Porda Provinsi Jabar. “Bukan. Pemda itu (yang undang),” cetus Aang.

Namun foto yang diperoleh majalah detik menunjukkan Andi singgah ke rumah Non di Dusun Wage pada malam tahun baru 2012. Andi datang untuk membuka kompetisi catur dan gaple antar-RT. Foto ini terekam dalam blog milik Otong, namun belakangan blog tersebut dihapus.

Andi sendiri enggan memberikan komentar terkait kabar ini. Kerabatnya, Iim Roohimah, menyebutkan Andi tidak mau diganggu. “Masalah bapak sudah banyak, jangan dilebar-lebarkan,” jelasnya.

Andi berhenti menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan korupsi pembangunan kompleks olahraga terpadu di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Pasca-kedatangan Andi, keluarga Non makin moncer di Cilimus. Otong misalnya, memenangi pemilihan kades tahun ini. Padahal sebelumnya, ia hanya menjabat sebagai ketua panitia lomba catur dan gaple antar-RT di Desa Cilimus.

Namun kisah sukses Non menyisakan cibiran. Perempuan ini terkenal gemar kawin-cerai. Pasca-menikahi Bernard, Non disebut menikah dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Barat Lukman Hakim Kartasasmita. Mantan menantunya, Aldi, mengaku hubungan suami-istri Non penuh tanda tanya.

Non masih berstatus sebagai istri Lukman saat Aldi menikahi Peni pada 2006. Namun saat itu Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim alias Odeng sudah berhubungan dekat dengan Non. Odeng pun rutin berkunjung ke Cilimus
“Dari mulai pendekatan itu datang ke rumah saya, makanya saya tahu. Cuma saya pada saat itu tanya, ‘Ini sebenarnya statusnya bagaimana?’ Gelagatnya mulai panik-panik gitu,”ungkap Aldi.

Padahal saat itu, Odeng masih memiliki istri resmi. Sumber di Kementerian Pertanian, membisikkan, istri resmi Odeng bernama Rina yang berprofesi sebagai artis.

Hubungan Aldi dan Peni sendiri memiliki akhir yang tidak baik. Mereka bercerai karena Aldi menuding Peni telah berselingkuh dengan Bupati Tanjung Jabung Timur, Jambi, Zumi Zola. Zumi membantah tudingan itu. Aldi sendiri sempat dipenjara lantaran melakukan pemukulan terhadap Rudy, asisten pribadi Non. Kasus ini dipicu perebutan hak asuh anak Aldi dan Peni, Rayden, pada 2011.

Warga Cilimus menduga Non tidak hanya menikah dengan Bernard, Lukman, dan Odeng. Mantan pejabat Desa Cilimus, yang tidak mau disebut namanya, mengaku, pernah kedatangan warga Singapura bernama John Li yang mengaku sebagai suami Non.

Ia menduga Non menikah lebih dari lima kali. Non yang selalu tampil bersih dan mudah berkomunikasi dengan siapa pun itu, disebut memang pandai menarik perhatian lelaki.

Hingga kini Non belum bisa dimintai klarifikasi. Didatangi di rumahnya di Pondok Indah, maupun di Cilimus, ia tidak ada. Ditelepon, dikirimi SMS dan surat untuk wawancara pun tidak direspons. Hingga saat ini, Jumat (18/10/2013) Bunda Putri masih belum muncul ke publik.

Sumber : detik.com

incoming search terms:

  • rumah bunda putri

LEAVE A REPLY