Mitos Jurnalistik

Buku “Mitos Jurnalisme” adalah buku karangan Bapak Dudi Sabil Iskandar dan Ibu Rini Lestari, beliau adalah dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta. Buku tersebut memberikan banyak fakta dan ilmu dalam dunia jurnalistik, etika jurnalistik hanya bahasa di “langit”, kode etik jurnalistik dibuang ke tong sampah, bahkan nilai berita diinjak. Singkat kata, fase pileg dan pilpres 2014 menjadikan martabat jurnalisme jatuh pada titik nadir, yaitu jurnalisme tidak memiliki nilai setitik pun. Adalah dua pakar jurnalisme kondang Bill Kovach dan Tom Resentiels yang membuat sembilan standar mutu jurnalisme. Komunikasi adalah salah satu cara manusia mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaanya. Dengan komunikasi, manusia mengaktualisikan semua potensinya. Dalam setiap gerak, manusia berkomunikasi dengan berbagai bentuk makro, meso, dan mikro. Komunikasi juga merupakan konsekuensial dari posisi manusia sebagai makhluk sosial. Internalisasi adalah proses ketika masyarakat sebagai subjektif menyiratkan realitas objektif ditafsirkan secara subyektif oleh setiap individu. Dengan demikian, internalisasi merupakan proses manusia untuk memasukan dunia yang dihuni bersama individu lain. Eksternalisasi adalah usaha atau ekspresi setiap individu ke dalam dunia, baik mental ataupun fisik, proses ini adalah ekspresi yang menguatkan eksistensi manusia atau individu dalam masyarakat.
Media massa dengan segala perangkat dan kelengkapanya bukan lagi merupakan kebutuhan masyarakat komtemporer. Ia adalah urat nadi dan kesadaran. Tidak ada ruang hampa yang lepas dari media massa, baik negatif atau positif. Secara umum, bisa dipastikan tidak ada masyarakat yang tidak tersentuh oleh media massa. Karena itu, lumrah bila efek media massa pada masyarakat sangat terasa, kecepatan dan perubahan budaya suatu masyarakat, misalnya, ditentukan sejauh mana media mempengaruhinya. Sejak kemunculan internet, berbagai aspek kehidupan manusia berubah menjadi drastis dan dramatis. Internet juga sering disebut konvergensi dan media internal, kemunculan media akses seperti internet kian mempertajam efek media. Kini hampir semua media cetak dan elektronik membarenginya, seperti berita online, e-paper, dan live streaming. Meski akurasi informasi pada media akses masih perlu diuji, tetapi ranah kecepatan penyebaran informasi, internet adalah nomor wahid. Kehadiran internet di telepon selular, misalnya, kian mempertegas dominasi kecepatan informasi melalui internet. Selain kecepatan berita, internet juga menumbuh suburkan jejaring sosial (Facebook, twitter, dan grup-grup yang berlandaskan hobi, profesi, dan kesamaan nasib). Internet menciptakan kebebasan individu tanpa sekat kultural (termasuk sekat etnis, ras, agama, geografis dan strata sosial).
Manusia adalah makhluk berbahasa. Dengan bahasa manusia melakukan komunikasi. Hakikat bahasa ialah bahasa penutur (lisan). Pada tahap selanjutnya, bahasa tutur mengalami perkembanganya yaitu bahasa tulisan yang bisa didokumentasikan. Ada tiga jenis makna dalam sebuah proses komunikasi yaitu, makna si penutur, makna si pendengar, makna tanda (sign meaning) yang melekat pada tanda itu sendiri. Dengan demikian makna timbul karena ada interaksi antara satu orang atau lebih dalam konteks tertentu melalui berbagai medium. Salah satu bentuk interaksi adalah bahasa tulisan dalam media cetak yang dikenal dengan nama berita. Pada era Julius Caesar, ada dua jenis media massa, yaitu Acta Diurna dan Acta Senatus. Acta Diurna adalah pengumuman dari agenda dan kegiatan kerajaan, saat ini dikenal dengan lembaga eksekutif. Acta Senatus adalah catatan harian tentang agenda dan kegiatan senat atau setara dengan Dewan Perwakilan Rakyat saat ini. Harus diakui bahwa di negeri ini pengusaha wartawan bukan dari wartawan yang idealis tetapi dari para pebisnis. Pengusaha media adalah pengusaha yang tidak sabar dalam berinvestasi jangka panjang, tetapi hanya mencari keuntungan semata dengan memanfaatkan kekuasaan dan kedekatan dengan sumber dana atau keuangan.
Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1990 menyatakan pers sebagai lembaga sosial dan wahan komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam tulisan, suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Pers adalah subsistem dari sebuah sistem pemerintahan, kelangsungan hidup pers tergantung pada sistem politik yang berjalan pada saat itu. Pers adalah lembaga independen yang tidak memihak kepada salah satu golongan ataupun pemerintah, tetapi berpihak pada kebenaran informasi dan fakta yang disampaikanya kepada masyarakat. Salah satu alasan mengapa pers diasumsikan pilar keempat demokrasi disebabkan peran dan kedudukan pers. Pers bukan pilar formal seperti eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Ia adalah pengontrol kinerja dan kebijakan tiga formal negara, pers bukan bagian dari trias politika sebab itu pers tidak memihak kepada siapapun.