SAMBIL menunggu majelis taklim sore dimulai, sejumlah murid Abu Qubaisy duduk bergerombol di serambi masjid. Mereka asyik berbincang-bincang tentang banyak hal. Satu di antara yang mereka perbincangkan adalah masalah nikmat-nikmat yang kata beberapa orang di antara mereka telah banyak yang hilang.

“Tampaknya kian bertambah usia seseorang kian berkurang pula nikmat-nikmat yang dirasakan,” ujar salah seorang di antara mereka.

“Maksudmu bagaimana?” Tanya yang lain.

“Ketika masih muda dulu, makanan apapun kusantap dengan lahap dan nikmat, tapi sekarang, kalau tidak demi kesehatan, terkadang segan rasanya untuk makan,” jawab yang ditanya.

“Ah itu hal nisbi. Boleh jadi kau merasakan begitu, tetapi orang lain yang seumurmu belum tentu,” potong murid lain memberi komentar.

“Nah, sekarang aku ingin bertanya, adakah di antara kalian yang masih bisa merasakan nikmat bertetangga? Rasul amat memandang penting pertetanggaan itu sebagai wujud dari habl min al nas. Salah satu hadis beliau mengatakan seseorang belumlah beriman bila dia bisa makan enak sedangkan tetangganya kelaparan. Di kesempatan lain beliau barkata bahwa ukuran kebaikan seseorang itu, antara lain, ditentukan oleh berapa besar kebaikannya terhadap tetangga. Nah, pada zaman kita ini adakah masih bisa kalian rasakan nikmatnya bertetangga?” Tutur murid lainnya lagi dengan kalimat pertanyaan panjang.

“Satu pertanyaan yang menggugah,” komentar Abu Qubaisy yang baru saja hadir di tengah kelompok itu.

“Dulu di kampung kita ini, tradisi saling mengirim makanan antar tetangga amat lazim. Sekarang, kalaupun masih ada, hal itu cuma terjztdi bila ada selamatan, atau hanya pada bulan-bulan Ramadhan. Di luar itu-tiaak ada sama sekali.” Contoh Abu Qubaisy.

“Dulu di kampung kita ini, bila seseorang ingin bepergian, hampir pasti, dia akan menitipkan kunci rumahnya pada tetangga. Minimal dia akan meminta tolong si tetangga menjaga rumah yang ditinggalkannya. Sekarang, jangankan menitipkan kunci, malah tak jarang orang tak percaya kepada tetangganya sendiri. Nah, itulah antara lain, nikmat-nikmat yang hilang dari pertetanggaan,” ujar Abu Qubaisy menutup komentarnya.

“Team Redaksi Artha”

LEAVE A REPLY