Manna, Bengkulu Selatan; Dengan adanya penghentian sementara pengangkutan material bebatuan dari lokasi Normalisasi alur sungai air nipis oleh PT.PKA lantaran mendapat surat teguran dari dinas ESDM Provinsi Bengkulu, namun tidak menyurutkan niat baik dari PT.PKA untuk tetap mengabdi demi kepentingan hajat hidup orang banyak.

pka-5
Dua Unit Exsavator ketika membuat jalan untuk akses masuk lokasi normalisasi

Hengki Erta Noflin Direktur Utama PT.PKA mengakui jika saat ini pihak nya tetap fokus pada pengerjaan cekdam sepanjang 100 meter dengan ketinggian 3 meter dan lebar 3 meter dan pembuatan tanggul guna mengantisipasi cuaca yang tidak dapat diprediksi sehingga bisa menyebabkan banjir.

“Saat ini kita hanya fokus pada pembuatan cekdam dan pembuatan tanggul untuk mengantisipasi terjangan air yang cukup deras bila banjir tiba,”ujar Hengki.

Dari pantauan media ini dilapangan, terlihat 2 unit alat berat (exsavator) milik PT PKA sedang bekerja melakukan pengerukan material bebatuan sungai.

Pengerukan tersebut dimaksudkan untuk membentuk alur sungai, yang tujuannya tidak lain untuk memindahkan arus. Sehingga saat datang musim hujan, kencangnya terjangan air waktu banjir tidak lagi menghantam rumah warga yang berada di pinggiran sungai Air Nipis Desa Darat Sawah Kecamtan Seginim.

alur-sungai
Sungai Air Nipis yang sudah dipasang tanggul Normalisasi

Selain terus melakukan pengerukan alur, terlihat juga para pekerja sedang melakukan pembuataan Beton Tahu Cor yang fungsinya diharapkan dapat menahan material agar tidak hanyut terbawa arus saat banjir.

Direktur PT PKA, Hengki Ertanoflin mengatakan kalau pihaknya terus melanjutkan pekerjaan hingga selesai kontrak.

“kami akan terus bekerja sesuai dengan kontrak Normalisasi. Dua alat berat jenis exsavator terus melakukan pengerukan alur sungai air nipis untuk mencegah bencana abrasi yang kerap terjadi di Desa Darat Sawah,”terang Hengki.

pka-8
beberapa beton tahu yang dalam tahap pencetakan oleh karyawan PT.PKA

Data terhimpun untuk keperluan pembuatan cesdam, PT.PKA saat ini melakukan pembuatan beton tahu sebanyak 420 buah. Langkah ini dilakukan untuk memudahkan pembuatan cekdam dan diyakini akan bertahan lebih lama dengan kata lain akan lebih kokoh.

“Beberapa waktu yang lalu, kita sudah melakukan persiapan pembuatan tiang dengan sistem cakarayam namun pada sat semua telah siap untuk dilakukan pengecoran, sungai air nipis “rawang” (banjir bandang) sehingga menghanyutkan seluruh material yang sudah disiapkan, maka dari itu kami coba dengan pembuatan beton tahu,”tutup Hengki.(SAR)