Manna, Bengkulu Selatan; Untuk menekan peredaran obat batuk komix, dan peredaran lem aibon serta minuman jenis tuak, Pemda berinisiatif untuk segera mengusulkan untuk pembentukan peratuaran daerah (Perda) tentang hal tersebut.

Hal ini disampaikan Kepala Bagian (kabag) Hukum Aprizani, SH melalui Kasubag Hukum dan Perundang-undangan Hendry Donan, SH.

“Selama ini belum ada sanksi bagi pengedar dan pecandu tuak lantaran belum ada aturan khusus begitu juga terhadap komix dan lem aibon, ke depan kami akan buatkan perdanya, sehingga peredarannya di BS bisa ditekan,” kata Hendry.

Maraknya peredaran tuak di Bengkulu Selatan (BS) membuat Pemda BS lantaran perda tentang minuman keras (miras) tidak menyebut secara jelas akan larangan peredaran tuak di BS. Sehingga mereka hanya dibina dan tuak hanya disita. Ke depan, Pemda BS akan membuat perda tuak, agar pengedar dan pecandu bisa disanksi.

Menurut Hendry, maraknya peredaran tuak di BS telah membuat Bupati BS, H Dirwan Mahmud SH prihatin, sehingga memerintahkan bagian hukum untuk membuat perda larangan peredaran tuak. Sehingga nanti, pihaknya akan merumuskan apakah nanti digabung dengan perda larangan peredaran miras, atau dibuat perda tersendiri.

“Kami sedang rumuskan apakah nanti dibuat perda tersendiri atau merevisi perda larangan peredaran miras yang sudah ada,” ujar Hendry.

Tidak hanya itu, sambung Hendry, ke depan, akan juga dibuatkan perda larangan peredaran komix dan juga lem aibon di BS. Sebab selama ini komix dan aibon sudah marak digunakan warga terkhusus kalangan remaja untuk mabuk. Sehingga sering ditemukan bungkus-bungkus komik dan aibon berserakan di tempat-tempat umum, seperti di areal pantai pasar bawah, tebat Sekuning dan di kebun-kebun sawit. Hal ini membuktikan jika kalangan remaja di BS sudah banyak yang candu mabuk komix dan aibon.(SAR)