JAMAAH majelis taklim Abu Qubaisy pagi itu heboh. Dinding masjid yang baru dicat telah dikotori dengan berbagai corat-coret. Para rnurid saling mempertanyakan tangan siapakah yang iseng? Mengotori dinding masjid dengan coret-coretan itu?

“Mengapa kalian cuma meributkan coretan-coretan itu? Apakah dengan begitu kalian berpikir corat-coret di dinding itu akan hilang sendiri? Daripada menyumpah-serapah dan bersungut-sungut tidak karuan, lebih baik kalian bersihkan dinding itu agar putih seperti semula,” kata Abu Qubaisy dengan nada yang sedikit pun tak menyalahkan.

“Tetapi mencorat-coret dinding itu adalah perbuatan tercela, Tuan guru!” Kata salah seorang murid dengan suara mengandung kemarahan yang berat.

“Ah, tidak selamanya begitu,” bantah Abu Qubaisy sambil senyum.

“Khalifah Al-Makmun yang terkenal itu, sekali waktu pernah memergoki seorang lelaki yang sedang mencorat-coret pagar istananya. Coretannya puitis, bunyinya” wahai istana yang mewah/dipenuhi celaan dan gelisah/ Bilakah engkau ciptakan/suasana bahagia pada setiap ruang/ Di hari engkau wujudkan/ dalamnya kegembiraanku/Akulah orang yang pertama yang mengabarkan/ hal-hal yang meruntuhkanmu.”

“Apa motivasi yang mendorongmu mencorat-coret tembok itu?” Tanya Khalifah.

“Ah, rasanya cukup jelas. Kemewahan mengelilingi istana ini, harta bertumpuk, makanan dan minuman serba lezat, perabot mewah, para wanita jelita dan pengawal gagah perkasa. Tapi di luar sana, aku berjalan dalam lapar dan dahaga. Maka, bila istana ini runtuh, sungguh aku tak merasa kehilangan sedikit pun,” jawab lelaki itu.

Mendengar jawaban itu, Khalifah Al-Makmun tercenung. Dia teringat ucapan yang bijak yang menyatakan, “Jika pada sebuah kerajaan tidak dirasakan orang kebahagiaan, pasti dia mengharapkan kehancurannya. Tak akan menyedihkan bencana yang menimpa istana. Kecuali mengharapkan ada pergantian dari keadaan yang menyedihkan itu.”

Kemudian khalifah mengambil uang seribu dirham dan memberikannya kepada pencoret tembok itu.

“Anda akan mendapat uang sebanyak ini setiap tahun, selama istana ini masih .egak dan rakyat tetap gembira dengan negaranya,” ujar khalifah.

“l^fah, tak selalu coretan di tembok tak bermanfaat, kan?” ujar Abu Qubaisy.

LEAVE A REPLY