Manna, Bengkulu Selatan; Naas nasib ketiga nelayan Pasar Bawah Kecamatan Pasar Manna yang berniat mencari nafkah dengan cara melaut harus menerima kerugian hingga Rp.20 Juta karena perahu mereka mengalami musibah kecelakaan ditengah laut. Ega (35), Dendi (17) dan Jarhan (40) adalah merupakan nelayan Pasar Bawah yang mengalami kerugian akibat perahu mereka terbalik setelah diterjang ombak besar sekira pada pukul 05.30 wib.

Setelah terapung lebih kurang 3 jam ditengah laut, ketiganya berhasil menepi dengan berenang untuk menyelamatkan diri, namun peralatan tangkap ikan dan mesin perahu rusak berat.

Disaat hari masih pagi ketiganya sudah siap berangkat melaut. Suasana masih gelap, mereka sudah ada di atas perahu dan berangkat ke tengah. Sekitar satu kilometer perahu melaju dari muara sungai air Manna ke tengah laut. Tiba-tiba ombak besar menghadang mereka di depan dan langsung menghantam perahu.

“Ombaknya sangat besar, mungkin sebesar rumah. Ombak itu pecah di tengah, sehingga tidak bisa dilalui perahu,” kata Ega didampingi Jarhan dan Dendi menceritakan kejadian yang mereka alami.

Setelah ombak menghantam, perahu mereka langsung terbalik dengan posisi tertelungkupdan mereka bertigapun ikut jatuh ke dalam air. Beruntung tubuh mereka tidak tertimpa badan perahu. Karena saat itu mereka sempat menghindar dengan cara menyelam ke dalam air.

“Perahu terbalik dengan posisi putar arah karena digulung ombak. Jadi kami dan alat di dalam perahu semuanya jatuh,” sambung Ega.

Setelah ombak besar berlalu, semuanya sudah berantakan. Perahu posisinya sudah tertelungkup, alat tangkap ikan seperti pancing dan jaring sudah tidak diketahui keberadaannya. Sedangkan mereka bertiga bertahan di tengah laut dengan cara berpegang ke badan perahu.

“Kami mengalami luka, saya luka di tangan karena terkena seng saat berpegang di kapal. Soalnya waktu berada di tengah itu, perahu terus diombang-ambingkan laut,” tuturnya.

Dengan menggunakan alat seadanya berupa jerigen Jaharman dan Dendi berusaha berenang menuju tepian pantai, sedangkan Ega masih bertahan ditengah laut dengan cara berpegangan pada perahu. Setelah lebih kurang dua jam Ega pun berusaha berenang ketepian.

“Waktu sudah dekat dengan tepi pantai, tubuhnya sudah lemah, kaki sudah keram. Saya panggil orang di tepi untuk meminta di lemparkan jerigen sebagai pelampung juga tidak ada yang mendengar. Karena itu, saya pasrah saja, beruntung saya masih bisa sampai ke tepi, sehingga nyawa selamat,” papar Ega.

Setelah ketiganya berhasil mendarat, mereka kemudian mencari badan perahu. Setelah ditunggu, perahu mereka di tepikan ombak di ujung pantai Pasar Bawah yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari muara sungai air Manna. Sedangkan satu peralatan jaring ditemukan warga di bawah taman remaja Kelurahan Belakang Gedung.

“Saya sudah puluhan tahun menjadi nelayan. Baru kali ini mengalami musibah seperti ini, perahu karam,” imbuh Jarhan.

Ketiganya mengakui sebelum pergi melaut cuaca mendukung, karena tidak ada angin maupun hujan. Namun tiba-tiba saja setelah perahu meninggalkan muara ada ombak besar. Atas kejadian itu, mereka trauma. Namun tidak membuat berhenti melaut, sebab menjadi nelayan sudah menjadi profesi untuk bertahan hidup.(SAR)