Sedekah yang baik

“TAHUKAH kalian, apakah sedekah yang baik itu?” tanya Abu Qubaisy kepada para murid yang mengelilinginya pada majelis taklim sore itu.

“Sedekah yang dikiaskan sebagai “tangan kanan yang memberi, tangan kiri pun tak tahu. Artinya sedekah yang benar-benar bukan untuk mencari pujian orang lain,” jawab seorang murid.

“Sedekah yang ihklas tanpa mengharapkan imbalan, kecuali keridhaan Allah semataY’ jawab yang lain.

“Justru lebih baik bila motivasi sedekah itu ketulusan semata. Artinya, imbalan dari Allah pun tidak menjadi penyebabnya,” tukas yang lain.

“Apa salahnya mengharapkan imbalan dari Allah? Bukankah Dia sendiri berjanji akan memberikan imbalan bagi setiap amal baik?” bantah yang lainnya lagi.

“Sudan, sudah. Cukup. Semua jawaban kalian benar. Hanya sudut pandang kalian saja yang berbeda-beda. Tetapi marilah dengarkan kisah yang akan kututurkan kepada kalian semua,” potong Abu Qubaisy

“Suatu hari, seorang lelaki Anshar datang pada Rasul dan meminta sesuatu. Rasul pun bertanya apakah di rumahnya dia memiliki sesuatu.”

Ketika lelaki itu mengatakan punya sehelai kain tebal yang sebagian dijadikan selimut dan sebagian dijadikan alas tidur, Rasul menyuruh membawa barang miliknya itu. Setelah menelitinya Rasul melelang barang itu di antara sahabat. Laku dua dirham.

“Ambillah uang hasil pelelangan ini. Belikan keperluanmu satu dirham, sisanya belikan kapak dan bawa kemari,” perintah Rasul berwibawa.

Lelaki itu pun pergi. Ketika kembali, dia menyerahkan kapak kepada Ra-sulullah. Setelah membuat dan memasangkan gagangnya, kapak dikembalikan kepada pemiliknya.

“Pergilah mencari kayu bakar dengan kapak ini, kemudian jual ke pasar. Jangan temui aku selama dua pekan,” titah Rasul.

Dua pekan kemudian orang itu datang bercerita bahwa dia sudah punya mata pencaharian tetap dan telah mempunyai tabungan sebesar sepuluh dirham dari hasil penjualan kayu.

“Itulah cara sedekah terbaik. Memberikan solusi dari kesulitan. Kini kata orang, berikan pancing, bukan ikan.” ujar Abu Qubaisy mengakhiri ajarannya.

 

“Team Redaksi Artha”

BAGIKAN
Berita sebelumyaYang Suka Menangis
Berita berikutnyaZikir yang tercela

LEAVE A REPLY