Manna, Bengkulu – Masjid jamik merupakan masjid tertua kedua di Manna setelah Masjid Al-Manar, dibangun sekitar tahun 1920-an oleh Muhammad Shaleh yang merupakan saudagar cengkeh dan Datuk Nazir yang bekerja sebagai kepala margapada masa itu.

Sebelumnya, Masjid Jamik pernah didirikan di jalanKartini, dekat kantor Dinas PekerjaanUmum (PU) Bengkulu Selatan yang sekarang. Namun, masjid itu pindah ke jalan Jendral Sudirman lantaran pemikiran Muhammad Shaleh, yang mengatakan kelak daerah itu akan menjadi pusat keramaian di Bengkulu Selatan.“Kini, daerah itu telah menjadi pusatkota. Padahal dulunya hanya berupa rawa yang banyak ditumbuhi talas, ”cerita Siradjuddin, yang masih merupakan cucu dari Muhammad Shaleh.

Menurut penuturan lelaki berusia 65 tahun itu, selain dijadikan sebagai tempat beribadah, masjid itu juga pernah dijadikan tempat berdiskusi mencari pemecahan masalah yang terjadi di Bengkulu Selatan.  Para pejuang seringkali mempergunakan masjid itu sebagai tempat menyusun strategi dan taktik melawan penjajah.

“Maklumlah belum ada tempat yang layak untuk berkumpul –bermusyawarah ya hanya di masjid itulah,” tutur dia.

Meski letak masjid berdekatan dengan kantor pemerintahan Hindia Belanda, tak membuat para pejuang gentar untuk berdiskusi di Masjid Jamik. Belanda tidak berani menyerang pejuang yang berada di masjid lantaran mayoritas masyarakat saat itu sudah beragama Islam.

Sayang, tak ada sedikit pun bukti kuat yang menjelaskan jika bangunan itu pernah menjadi wadah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Masjid bersejarah itu kini tak lebihhanya dianggap sebagai tempat beribadah dan berdakwah bagi para generasi muda.

Sejarah panjang tentang masa lalunya kini nyaris tak lagi dapat bercerita. Sejarah itu hanya beredar dari mulut kemulut para generasi tua yang tak mewariskan kembali sejarah itu kepada anak-cucunya.(dc)

incoming search terms:

  • sejarah bengkulu selatan
  • p ejuang dari bengkulu selatan
  • kisah yang ada di bengkulu selatan
  • sejarah di bengkulu selatan
  • sejarah manna