Indra Sjafri kelahiran di Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pada 2 Februari 1963 yang sekarang berumur 50 tahun adalah seorang mantan pemain sepak bola yang kemudian menjadi pelatih sepak bola Indonesia dan Ia dipercaya menjadi pelatih Timnas Junior Indonesia (PSSI), seperti Timnas U-12, U-17 dan U-19 yang dijuluki Garuda Muda.

indra sjafriIndra Sjafri adalah anomali. Ia adalah sebuah penyimpangan dari arus utama pengelolaan sepak bola Indonesia. Ini jika kita melihatnya dari perspektif struktural. Namun, jika kita melihatnya dari arus kultural, Indra Sjafri adalah kesejatian. Ia mewakili suara murni bangsa dan pesepak bola Indonesia. Sejatinya, bangsa ini baik. Sejatinya, bangsa ini memiliki pemain dan pelatih yang bagus. Namun, semuanya dikurung para pengelola yang buruk. Bakat-bakat sepak bola Indonesia menjadi tak berarti. Potretnya paling jelas pada pertandingan Indonesia melawan Cina pada babak kualifikasi Piala Asia, di Jakarta, Selasa lalu.

Pada 22 September 2013, Indra Sjafri yang sukses membawa tim asuhannya, Timnas Indonesia U-19 menjuarai Turnamen Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 setelah di final mengalahkan tim kuat Vietnam dalam pertandingan dramatis yang berujung adu penalti, di mana tim Indonesia menang dengan skor 7-6. Gelar juara ini merupakan gelar pertama Indonesia sejak 22 tahun terakhir dimana Indonesia tak pernah meraih satupun gelar juara baik di level Asia Tenggara maupun level yang lebih tinggi.

Indra adalah produk rezim sebelumnya, yang kini sudah tersingkir oleh rezim saat ini. Saat itu Indra diberi keleluasaan untuk merekrut pemain. Ia harus blusukan mencari pemain ke pelosok negeri, ke tim-tim junior milik klub, ke sekolah sepak bola. Ia menolak titipan pemain dari siapa pun, misalnya dari pengurus, mantan pemain nasional, pejabat, dan sebagainya. Saat mencari bakat, dia pun menembus berbagai hambatan. Dia tahu benar, para pemain yang disodorkan bisa saja tak murni hasil seleksi yang fair. Karena itu, ia menggali informasi dari mana pun untuk mendapatkan pemain terbaik. M Syahrul Kurniawan, misalnya, ia dapat berdasarkan informasi tukang ojek.

Indra telah menunjukkan kepada publik bahwa timnya bisa memainkan sepak bola yang enak ditonton. Ia mencoba memainkan gaya Arsenal atau Barcelona dengan satu-dua sentuhan dan operan-operan pendek. Ia juga mengukur kualitas fisik pemain dengan standar VO2 max. Ia menerapkan disiplin ketat, melarang pemainnya tampil di “infotainmen”. Kepatuhan pemain terlihat dengan kedisiplinan menerapkan strategi yang ia instruksikan. Namun, para bandar judi tentu tak akan berhenti berusaha. Mereka bisa menyelinap lewat siapa saja. Para artis yang sempat meramaikan dunia sepak bola Indonesia juga diduga bagian dari mafia judi. Mereka bisa memencet pengurus atau keluarganya. Mereka bisa menggunakan cara apa pun, termasuk rekrutmen di klub liga.

Sumber : www.republika.co.id, http://id.wikipedia.org

LEAVE A REPLY