Sikap kritis selalu diperlukan

“SUDAHKAH Tuan mendengar bagaimana nasib Al-Azhari, sahabat baik Tuan, wahai guru kami tercinta?” Tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy “Belum. Apa gerangan yang menimpa dirinya?” Abu Qubaisy balik bertanya.

“Dia dikucilkan karena dengan kritis mengecam pembangunan menara pengintai tertinggi di desa kita. Menara yang bisa dijadikan tempat mengintai kalau-kalau ada bahaya, bisa pula dimanfaatkan untuk gedung pertemuan warga, dan diduga bisa menarik orang datang ke kampung kita itu, menurut Al-Azhari manfaatnya tak seimbang dengan derita orang-orang yang tanah dan rumahnya digusur,” kata si murid dengan kalimat panjang.

Sejenak Abu Qubaisy menarik napas dalam. Tampaknya dia terkenang akan nasib sahabat baiknya itu. Kemudian dengan tutur yang amat hati-hati dia berkata,” Maukah kalian kuceritakan sepotong kisah penguasa kaya dari Qurthubah yang dikenal dengan nama Al-Nashir?”

“Apakah dia pun dikucilkan karena bersikap kritis?” Potong seorang murid. Abu Qubaisy cuma tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Untuk menunjukkan kejayaan ilmu dan budaya Islam di negerinya, Khalifah Al-Nashir membangun gedung-gedung mewah dan bertingkat. Pada suatu saat, di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota Al-Zahra, sang khalifah memerlukan salat Jumat di masjid tempat Mundzir Ibn Sa’id menjadi khatib. Mundzir adalah seorang hakim yang dikenal adil, bijaksana, tapi juga kritis.

Bagai tahu ada khalifah dimasjid itu, Mundzir mengecam kegiatan pembangunan yang dilakukan untuk kemegahan belaka. Dikutipnya ayat 128-131 Surat Al-Syu’ara yang berisi ancaman Allah terhadap penguasa yang membangun tempat hiburan dan benteng pertahanan untuk kalangan atas dengan mengabaikan nasib orang kecil.

Tentu, mendengar kritik yang terkandung dalam khutbah uu hati khalifah jadi panas. Namun otak kesadarannya sebagai pemimpin mampu mendinginkan semuai itu.

“Ayah, copot saja Mundzir dari jabatan hakim,” usul anak Al-Nashir tak tahan mendengar kecaman tersebut.

“Tidak. Kita butuh orang kritis macam Uu. Kita perlu belajar mendengar dengan baik gema dari suara-suara hati nurani umat,” jawab sang khalifah.

LEAVE A REPLY