DUA orang murid Abu Qubaisy terlibat perdebatan seru mengenai pengorbanan yang terbaik untuk agama. Kata yang satu, pengorbanan hartalah yang terbaik. Karena dengan harta itu orang bisa mengikis habis kemiskinan Dengan demikian berarti terkikislah salah satu faktor penyebab kekufuran Sebab, seperti kata Rasulullah, fakir itu potensi kafir.

Tapi kata yang lain, pengorbanan jiwalah yang paling utama. Di dalam Al-Quran Allah berulang kali memuji para pengorban jiwa. Bahkan Dia mengatakan, mereka yang gugur di jalan Allah itu tidaklah mati, melainkan hidup terus dan diberi rezeki di sisi-Nya.

“Sesungguhnya tidak ada manusia yang berkorban untuk Allah. Baik korban harta dan lebih-lebih korban jiwa,” jawab Abu Qubaisy ketika para murid itu bertanya tentang pengorbanan tersebut. Saat itu sang guru yang arif itu baru saja tiba di masjid.

“Tapi Al-Quran ada menyebutkan perihal tersebut,” ujar salah seorang murid.

“Itu semata-mata penghargaan dari Allah belaka. Coba renungkan, apa yang akan dikorbankan oleh seorang manusia yang sesungguhnya tidak punya apa-apa itu? Harta dan nyawa yang katanya dikorbankan itu kan milik Allah semua.” Kata Abu Qubaisy tegas.

Dan para murid pun mengangguk-angguk, menyadari kebenaran ucapan gurunya.

“Itulah sebabnya Mush’ab berani meninggalkan apa saja ketika dia memilih Islam,” sambung Abu Qubaisy lagi.

“Siapakah Mush’ab itu?” Serempak para murid yang hadir bertanya.

“Mush’ab Ibn Umair adalah anak konglomerat pada zamannya. Sebelum menjadi Muslim, dia hidup dalam gelimang harta dan kesenangan. Namun begitu masuk Islam, dia tidak diakui anak lagi oleh orangruanya. Tapi pendirian Mush’ab tidak berubah, meskipun dia sekarang bukan cuma sering kelaparan, tapi sering tidak makan sama sekali. Pakaiannya compang-camping. Selimut satu-satunya miliknya untuk musim dingin demikian pendek, sehingga bila dipakai untuk menutupi kepala, kakinya terbuka. Bila ditarik ke kaki, maka kepalanya terbuka. Sehingga sekali waktu Rasul berkata, “Selimuti kakimu dengan daun dzikir, wahai Mush’ab.” Dan konon, ketika wafat sebagai syuhada Perang Uhud, kafannya tidak cukup membungkus tubuhnya.

“Tapi Mush’ab tak pernah merasa telah berkorban untuk Allah. Karena dia merasa tak punya apa-apa. Bahkan dirinya pun milik Allah,” tutup Abu Qubaisy.

 

“Redaksi Artha”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.