Ribuan tahun yang lalu, di tanah kering dan tandus, di kergesangan kawasan yang meranggas, di atas bukit-bukit bebatuan yang ganas, sebuah cita-cita universal ummat manusia dipancangkan. Nabi Ibrahim Alaihisalam, Abu Al Millah, telah memancangkan sebuah cita-cita yang kelak terbukti melahirkan peradaban besar. Cita-cita kesejahteraan lahir dan batin. Suatu kehidupan yang secara psikologis aman, tentram, dan sentosa, secara materi subur dan makmur.

 

Firman Allah SWT:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah: 126)

 

Sesungguhnya apa yang dipancangkan oleh Ibrahim itu adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan hidup manusia sampai sekarang ini. Ia menghendaki sebuah masyarakat ideal yang bersih; yang merupakan refleksi otentik, interaksinya dengan system kepercayaan, nilai-nilai luhur, dan tata aturan (syariat) yang telah menjadi dasar kehidupan bersama. Sebab keidealan dan kebersihan sebuah masyarakat hanya mungkin terjadi jika terdapat kesesuaian antara realitas actual dengan keyakinan (aqidah), nilai-nilai luhur (akhlaq) dan tata aturan (syariat) yang diyakini.

 

Cerminannya: terbangunnya kehidupan yang seimbang dan tentram; strukturnya yang stabil dan kokoh; dan produktivitasnya laksana kebun yang pohon-pohonya rindang yang akar-akarnya kokoh menghujam ke bumi, tertata dan terawat, enak dipandang dan buah (kemanfaatan)-nya tidak mengenal musim, serta sekaligus menjadi tempat persemaian generasi mendatang.

 

Sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan tata kehidupan yang telah dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itulah yang terbukti melahirkan cita-cita ketentraman dan kemakmuran hidup manusia. Itulah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan jelas. Tidak ada yang membencinya kecuali orang yang zalim, bodoh dan merendahkan diri sendiri.

 

Nabi Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukan kepada system kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan illahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. “Ketika Allah berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah (Islamlah),” maka ia tidak pernah menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik rasa keraguan sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah itu dengan seketika dan dengan penuh ketulusan).

 

Ternyata keislaman Ibrahim tidak hanya untuk dirinya sendiri, ketundukannya kepada ajaran-ajaran dan syariat Allah bukan hanya buat dirinya sendiri, bahkan tidak hanya untuk generasi sezamannya, melainkan untuk seluruh generasi ummat manusia. Atas dasar itulah beliau wariskan Islam dan sikap ketundukan kepada Allah untuk anak cucu sepeninggalnya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa.

 

Firman Allah SWT:

 

“Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132)

 

Apa yang diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub tersebut jelas mengisyaratkan agar anak cucu mereka, agar generasi sesudahnya menerima dan menegakkan Islam secara utuh serta konsisten dalam merealisasikan cita-cita kesejahteraan. Ketulusan dalam menerima dan menegakkan Islam secara konsisten pada cita-cita luhur adalah jaminan untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Sebaliknya, ketidakpatuahan dan inkonsisten kepada Islam dapat menjerumuskan kehidupan kaum muslimin ke dalam lembah yang penuh nestapa dan akan menjerambabkan manusia ke dalam krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

 

Rasulullah SAW 14 abad lebih yang lalu memberikan isyarat tentang situasi yang akan menimpa sebuah bangsa yang tidak konsisten menjalani tata aturan agama. Mereka akan dilanda berbagai krisis (sosial, politik, ekonomi, moral dan budaya) yang berkepanjangan.

 

Rasulullah SAW bersabda “Apabila akhir zaman semakin dekat maka banyak orang yang berpakaian jubbah, dominasi perdagangan, harta kekayaan melimpah, para pemilik modal diagungkan, kemesuman merajalela, kanak-kanak dijadikan pemmpin, dominasi perempuan, kezaliman penguasa, manipulasi takaran dan timbangan, orang lebih suka memelihara anjing peliharaannya daripada anaknya sendiri, tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyanyangi yang kecil, membiaknya anak-anak zina, sampai-sampai orang bisa menyetubuhi perempuan di tengah jalan, maka orang yang paling baik di zaman itu hanya bisa mengatakan: tolonglah kalian menyingkir dari jalan, mereka berpakaian kulit domba tetapi berhati serigala, orang paling ideal di zaman itu adalah para penjilat,” (HR. Thabrani)

 

Fenomena social yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut pada kenyataannya telah bermunculan di tengah-tengah bangsa yang sedang dirundung krisis multi dimensi ini. Kita dapat menyaksikan lahirnya manusia-manusia yang secara zahir berpenampilan rapi, bersih, menarik dengan gaya dan isi pembicaraan yang memukau seolah ingin menggambarkan tingginya kemampuan intelektual mereka dan keberpihakan kepada kebenaran dan keadilan. Padahal, kondisi sebenarnya adalah mereka membenci dan memusuhi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam kehidupan. Orang-orang seperti itulah yang kemudian popular disebut politisi busuk dan birokrat pendusta. Perilaku menyimpang ini sangat berpengaruh besar terhadap keamanan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.

 

Gaya hidup seperti ini dapat mengobarkan kemunafikan dan kepura-puraan di semua sector kehidupan. Di sana ada politisi busuk, birokrat pendusta, pemimpin yang tidak berkualitas yang kerjanya hanya mengeruk kekayaan buat dirinya sendiri, pedagang culas yang tidak mengindahkan norma-norma, para suami yang tidak berdaya, dan merebaknya dekadensi moral yang dilakukan secara terang-terangan.

 

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan petunjuk bangsa ini, para pemimpin bangsa ini agar senantiasa lebih bersih dan peduli, yang dapat mengarahkan kehidupan bangsa ini ke cita-cita luhurnya, hidup aman sentosa dan makmur di bawah naungan Illahi. Serta semoga kita dapat mewariskan dan memaknai wasiat Nabi Ibrahim. Amiin ya robbal ‘alamiin.

(Iwan Artha)