Yang suka menangis

“PADA saat peringatan Maulid Nabi di masjid lingkungan kami beberan hari yang lalu, pembawa kisah Rasulullah Saw menangis di tengah tuturan riwayat itu. Boleh atau tidak menangis di saat seperti itu? Tidakkah perilakii seperti itu sudah keterlaluan?” Tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy

“Tak ada larangan menangis, kapanpun jua. Sepanjang tangisan itu pantas wajar, dan beralasan,” jawab Abu Qubaisy.

“Apa yang dimaksud dengan pantas, wajar dan beralasan itu?” Tanya murid yang lain.

“Penyesalan atas dosa, takut akan siksa Allah, khawatir akan nasib di hari kiamat, duka karena kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai. Dalam kaitan Maulid Nabi, menangis karena terharu mengingat berat dan mulianya perjuangan Rasulullah,” jawab sang mursyid.

Ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia, Rasulullah Saw menciumnya seraya menitikkan air mata. “Engkau juga menangis, ya Rasul Allah?” Tanya Abd al-Rahman Ibn Auf tercengang.

“Air mata berlinang dan hati terkoyak sedih adalah rahmat Allah jua. Tapi kami sekeluarga takkan berkata yang tak diridai Allah,” sabda Rasul.

“Dan tahukah Anda, kaum yang kini dikenal dengan sebutan sufi itu sebelumnya disebut “al-Bakun.” Artinya “yang suka menangis. “Karena setiap kali merenungkan ayat-ayat al-Quran dan ketika surga disebut, mereka menangis tersedu sambil berharap bisa masuk ke dalamnya. Dan sebaliknya, tiap kali neraka disebut dan siksaan di dalamnya digambarkan, mereka menangis,” kata Abu Qubaisy.

“Tapi ada pula yang disebut “air mata buaya.” Al-Quran menggambarkan dengan jelas bagaimana para saudara Nabi Yusuf alaihi al-salam menangis ketika mengelabui ayah mereka, Nabi Yakub, mengabarkan kematian Yusu£ Boleh jadi itu semacam “air mata buaya” pula. Bahkan ada “air mata komef-sial.” Misalnya tangisan yang dikenal dalam budaya masyarakat Yunani, Cina, dan sebagian masyarakat Timur Tengah. Orang-orang tertentu dibayar untuK turut menangisi duka suatu keluarga. Budaya tangis macam itu sampai sekaran^ pun masih dikenal,” kata Abu Qubaisy mengakhiri taklim sore itu.

“Team Redaksi Artha”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.