Zikir yang tercela

“TINGGALKAN saja majelis ini dan tidurlah dengan tenang. Sore nanti Anda bisa ikut lagi dengan semangat dan mental serta fisik yang benar-benar siap,” perintah Abu Qubaisy kepada seorang muridnya yang amat mengantuk.

Dengan patuh murid itu meninggalkan majelis, meskipun pada wajahnya tampak tersimpan tanda tanya dan kehendak memprotes. Ketaatannya kepada guru menghapus semua niat tersebut.

“Malam tadi nyaris semalam suntuk dia tidak tidur. Dia memang ingin memasrahkan diri kepada Allah secara total. Malam-malamnya sering diisi dengan salat, menderas Quran, tahlil, iktikaf, dan ibadah-ibadah lain. Begitulah caranya zikir. Dia percaya betul dengan Sabda Rasul yang mengatakan bahwa zikir akan membuat jiwa menjadi tenang,” tutur salah seorang murid kepada temannya menanggapi perilaku sahabat mereka yang disuruh meninggalkan majelis taklim.

“Pada suatu hari, ketika melewati sebuah masjid, Khalifah Umar Ibn Khatthab melihat sekelompok pemuda berada di dalam. Mereka sedang tahlil, tahmid dan terus menerus menyebut nama Allah,” kata Abu Qubaisy menuturkan sebuah kisah.

“Ketika Umar bertanya siapakah mereka, para pemuda itu berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang pasrah kepada Allah. Mereka berharap Khalifah memuji perbuatan mereka itu. Bukan memuji, Khalifah Umar malah menuduh mereka itu para pembohong belaka,” sambung Abu Qubaisy. Dan para murid pun tahu guru mereka itu sedang menyampaikan alasan mengapa dia menyuruh tidur murid yang mengantuk.

“Orang yang berserah diri kepada Allah adalah orang yang tawakal. Dan mereka adalah orang-orang yang menggerakkan anggota badan untuk menggali kekayaan alam, sambil tetap mengingat Allah,” ujar Khalifah Ibh Khatthab.

“Jadilah kalian orang-orang yang profesional dalam bekerja, karena mereka yang profesional selalu dibutuhkan orang dan zaman. Jangan ada di antara kalian yang hanya duduk-duduk memuji-muji Allah dan dengart begitu meng-harap Allah menurunkan rezaki bagi kalian. Ingatlah ucapan Rasul yang menya-takan bahwa Muslim yang baik adalah yang makan dari hasil keringatnya sen-diri,” nasihat Umar dengan kalimat panjang.

“Sadarilah bahwa kita terkena nasihat itu,” ujar Abu Qubaisy menutup kisahnya.

“Team Redaksi Artha”

BAGIKAN
Berita sebelumyaSedekah Yang Baik
Berita berikutnyaYes

LEAVE A REPLY